Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Desember 2015

Titik Jujur

Bahasan titik harusnya sudah minggu lalu. Ketika sedang melakukan sesuatu kemudian muncul satu titik yang membuat saya berhenti melalukan kegaiatan yang saat itu sedang saya kerjakan dan berpikir ulang apa hakikat semuaaa yang sedang saya kerjakan. Apa tujuannya, apa latar belakangnya, bagaimana caranya, apakah saya melakukan dengan orang yang benar, apakah ini yang selama ini benar-benar diinginkan?
Semacam titik refleksi yang (harusnya) membantu kita untuk kembali meluruskan niat.

Beberapa hari kemudian titik itu kembali muncul. Bukan lagi berbagai pertanyaan itu yang muncul. Tapi satu kata sifat. Jujur.
Seperti tertampar. Seakan selama ini satu kata itu yang luput dari pikiran saya selama ini.
Jujur.
Bahwa sesungguhnya kejujuran adalah di atas segalanya. Jujur dalam perkataan dan perbuatan. Dalam dua kejadian, dua-duanya telah teruji. Dengan hasil yang. Membuat saya. Kecewa.
Entah mungkin hanya kecurigaan saja atau kah memang sesuatu yang tak dimilikinya.
Apakah saya tak cukup menjadi teman yang pantas untuk mengetahui sesuatu secara utuh dan apa adanya?
Mungkin memang hanya sebatas ini. :)

Rabu, 06 Agustus 2014

Kesimpulan

Bahwa terkadang ternyata kita bisa mengambil kesimpulan tentang keadaan diri kita dari pernyataan orang lain.

*mungkin saya masih rindu berkumpul dengan kalian, sementara dua hari ini males banget ngantor :"

Rabu, 02 Juli 2014

Menghilang

Mungkin kamu menghilang
karena ingin melupakanku
atau karena ingin aku melupakanmu

Memangnya untuk apa kita saling mengingat?
:)

Kamis, 26 Desember 2013

Aku Ingin Mundur








Ketika aku bilang aku ingin mundur
Kadang aku tak benar-benar ingin berkata demikian
Karena kadang mulutku terlalu kelu untuk berkata yang sebenarnya
Aku malu
Malu mengatakan dengan gamblang
Berharap ada yang mengerti tanpa ada sebaris kata terucap lisan
Tapi harapan hanya jadi angan
Sebenarnya aku hanya butuh penguatan-penguatan
Yang akan tetap mendukungku berjalan
Berjalan lurus ke depan, bukan hanya diam
Atau bahkan mundur ke belakang

Ketika akhirnya deretan kata itu keluar,
Beberapa bilang aku memang lebih pantas diam
Beberapa bilang aku lebih baik kembali menapaki langkah yang telah terjejak
Beberapa tidak bergeming

Kemudian kamu,
Kamu tahu
Kamu dapat membacaku
Ah tidak, kamu tidak bisa membacaku
Yang aku tahu waktu itu kamu menguatkanku untuk tetap maju


Temanggung, 29 November 2013




Rabu, 23 Oktober 2013

Mengharap





Iya, aku tahu bahwa aku sendiri yang mempermainkannya
Hatiku sendiri
Ketika kamu sudah berpendar perlahan, antara sadar dan sangat sadar pensil ingatanku kembali menggambarnya
Kecewa yang sebenarnya telah pergi, kembali mendera
Tidak ada yang perlu disesali di sini
Semua manusia berhak mengharap
Pun aku







Selasa, 17 September 2013

Bukan Dijangkau


Mungkin benar kata seorang kawan
Kamu bukan untuk dijangkau
Tapi hanya untuk dikagumi

Senin, 02 September 2013

Cuma Sama Kamu

Cuma sama kamu
Aku nggak pernah bilang kangen
Karena aku tau siapa aku
Aku tau siapa kamu
Kita bukan siapa-siapa

Selasa, 25 Juni 2013

Kriteria Tak Butuh Alasan

Apa gunanya kriteria
Bila katanya cinta tak butuh alasan?

Lantas,
Apa pula makna dibalik cinta tak butuh alasan
Bila di sana ada kriteria?

Selasa, 11 Juni 2013

Meletup

Apa yang akan kamu lakukan ketika rasa rindumu sudah memuncak hingga ke ubun-ubun
Ketika dia membuat dadamu bergemuruh tak tertahan, meletup-letup tak keruan
Ketika mulut jadi hanya ingin diam seharian

Ah, rindu memang makhluk paling tak tahu diri
Tiba-tiba datang ketika aku melamun sendirian
Ketika aku ada di tengah keramaian
Dan bahkan ketika aku masih berkutat dengan setumpuk gawe yang dekat dengan deadline

Apa yang akan kamu lakukan?

Kalau aku,
Hanya akan (berusaha) melupakannya

Rabu, 05 Juni 2013

Menyerah?


Apakah pantas menyerah untuk sesuatu yang belum saya dapatkan? Bahkan belum saya perjuangkan?









Selasa, 04 Juni 2013

Sedetik

Aku bohong kalau aku bilang
cuma butuh waktu sedetik untuk jatuh ke sana
Butuh ribuan bahkan jutaan detik mungkin
Ah bukan,
Bukan butuh
Siapa pula yang butuh jatuh?
Entah butuh berapa detik untukku sadar
bahwa aku telah terjatuh
Sadar
Mustahil bila dalam sedetik aku jatuh lalu sadar

Tapi aku hanya minta sedetik saja,
untukmu sejenak mengabur dari pikiranku
Sedetik

Kamis, 16 Mei 2013

Fase

Kadang saya ingin berhenti di satu fase. Karena terlalu menikmati. Malas beranjak.
Tanpa saya sadar fase berikutnya telah menunggu.

Kadang saya ingin cepat melalui satu fase. Karena ingin segera mencicipi fase yang berbeda. Ingin sensasi lain.
Tapi tanpa saya sadar ternyata saya belum siap.

Rabu, 08 Mei 2013

Sama



Mungkin aku ada di jalan yang berbeda
Tapi siapa yang tahu kalau aku menuju takdir yang sama

Percuma

Percuma memang bila ternyata  aku bergerak sendiri

Percuma pula bila ternyata aku merindu sendiri

Lewat sela-sela teralis jendela aku berbisik pada si bayu
yang malam-malam melintas perlahan
Di antara desah dedaunan
Di antara tiga laron yang sedang beterbangan
Di antara deru pesawat yang sengaja melintas di atas sana
Aku bilang kalau aku rindu

Percuma

Di antara derak kereta ekonomi yang kian menua
Di antara lautan manusia stasiun yang saling berebut naik turun tangga
Di antara suara sumbang peluit petugas peron lima
Aku juga berbisik
Aku bilang kalau aku rindu

Percuma

Aku tahu itu percuma
Tapi aku tetap berbisik pada angin yang membuat rokku sedikit tersingkap
Pada hujan yang membasahi sepatuku yang baru saja aku cuci
Pada kilat yang membuat mataku terkesiap
Pada batu kerikil yang membuatku tersandung di suatu sore
Pada rumput yang bergoyang sayu
Pada kambing yang selalu berebut jalanan sempit
Pada cicak yang tak bosan merangkak di dinding
Aku bilang aku rindu

Percuma

Bila ternyata  aku bergerak sendiri
Bila ternyata aku merindu sendiri

Minggu, 28 April 2013

Kemungkinan



Masih saja keasyikan membayangkan seribu kemungkinan
yang diharap bisa terjadi setiap saat

Berpapasan di tengah jalan
Berdiri di gerbong kereta yang sama
Menyeberang di jembatan penyeberang yang tak berbeda
Makan malam di warung nasi goreng yang sama

Apa mungkin?
Bahkan kita berdiri di tanah yang berbeda
Terjarak oleh ribuan mil aspal
Terbatasi oleh perairan luas
Tertimbun oleh angkasa yang membumbung

Bukan itu intinya,
Kemungkinan yang melegakan itu
Hanya tersekat oleh kemauan

Rabu, 24 April 2013

Nikmati

Cara terbaik untuk selalu nyaman dan senang dalam keadaan apa pun dimana pun adalah selalu ingat bahwa kelak di masa depan apa pun yang sedang dilalui akan kita rindukan.

Nikmati tiap alurnya. Rasakan energi yang tercurah untuknya. Pikirkan makna yang terselip di dalamnya. Syukuri.

Saya yakin akan rindu masa-masa ini. Saya sedang rindu masa-masa yang pernah saya lalui. Pun masa depan, saya merindukannya agar segera datang. Menyingkap setiap jengkal tabir rahasia yang selalu menggoda untuk dibuka.

Nikmati,
Iya saya selalu berusaha menikmati setiap apa yang ada. Supaya kelak bisa mengingat setiap detil ketika saya merindukannya.

Jumat, 12 April 2013

ILUSI


-Jangan main ilusi sendiri. Baik ilusi yang bagus ataupun ilusi yang jelek.- Ayu

Ingkar (Lagi)

Mengingkarinya lagi
Tapi tak menyesal
Bukan lantas menjadikan pengingkaran itu sebagai hal yang lumrah
Tapi karena sekarang yakin
Nggak ada yang salah dengan pengingkaran itu
Bukan di sini yang salah
Tapi ada di sana
Iya di sana
Di sebuah sikap yang membuat pengingkaran ini tak membuat penyesalan

Minggu, 07 April 2013

Risau


Mungkin risau yang paling dekat dengan kata galau saat ini. Galau udah nggak musim kan yaa.

Semaleman ini absurd banget. Penyebab utamanya adalah gara-gara nggak dap…. Ah  yaudahsihyaa.

Harusnya hari ini ngerjain revisi laporan yang udah dikirim sama in charge  tengah malam kemarin. Tapi berhubung hari Sabtu ini ada kegiatan dan sore baru pulang, makanya nggak sempet. Isya’ tadi baru saya download filenya, dapet sms dari Acil yang nanyain tentang itu, trus curhat kalau males, dan akhirnya nggak  belum ngerjain sampai sekarang. Nggak tau deh kalo Acil. In chargenya nggak jelas banget.

Hari Jumat kemarin dibikin bête abis. In charge pagi udah sms kayak biasa nyuruh ini itu. Dari lagak-lagaknya sih kayaknya hari itu nggak bakal dateng. Yaudah, saya sama Acil ngerjain apa aja yang bisa kami kerjain. Tau-tau jam 4 sore bapak in charge kami dateng. Firasat langsung nggak enak. Pasti lembur. Aaaaa…. Ngerusak janjian saya sama Ayu.

Dan benar! Bapaknya nyuruh ini itu. Ya nggak papa sih dikasih kerjaan ini itu, karena emang tugas saya sebagai asistant buat bantuin. Tapi cara menyampaikannya ini loh. Acil juga nggak kalah bête. Sesorean itu akhirnya kita saling nyolot. Sesy juga ikut-ikutan ketularan, hahaha.

Alhasil, malam itu baru keluar kantor jam 19.45, tanpa makan malam terlebih dahulu. Lapar luar biasa. PAgi nggak sarapan, siang cuma makan bakso, sama gorengan juga sih. Tapi kan belum makan nasi. Mana saya nggak tau jadwal kereta yang baru. Sampai di Tanah Abang yang biasanya ada kereta ekonomi berangkat pukul 20.30, ternyata udah ganti jadi Commuter Line berangkat pukul 20.45. Yang dari Manggarai nggak begitu penuh sih.

Sekuat-kuatnya saya, kadang tetep takut juga di jalan yang agak sepi. Takut sama orang. Untung ketemu sama mba-mba buat naik angkot. The next problem is: kawasan kampus lampunya nggak dinyalain, jadinya gelap banget. Mulai masuk gerbang depan, cuma lampu taman yang kecil yang diidupun, itu pun yang bagian depan. Yang di sebelah gedung I dan sekitaran gedung P nggak nyala. Kalau di situ saya takut ketemu sama yang enggak-enggak. Cuma bisa nyebut Allahu Akbar sambil jalan cepet. Terus pas nyampe deket pos satpam ada 4 orang satpam yang lagi nongkrong-nongkrong, pada ngeliatain. Pada amaze kali ya sama saya yang berani nembus kegelapan malam.

Nggak tau lagi deh maunya kampus tuh apa. Biar bayar listriknya irit? Tapi kan malah jadi rawan kejahatan juga.

Dan menu makan malam andalan adalah nasi goreng super pedes deket kosan. Biar penatnya ilang. Biar agak nge-fly. Hahaha. Tapi paginya mules-mules K

Ada yang ngirim lagu malem itu. Lumayan lah yaa jadi agak entengan dikit penatnya. Hihi. Makasih ya woy! :D

Intinya sekarang laporannya belum saya revisi sama sekali.

Dua minggu yang lalu ulang tahunnya Satria, trus ditraktir deh di BP. Yeayy!! Makasih yee. Biar nggak krik-krik dan biar ada timbal baliknya ya kami ngasih kue kecil-kecilan lah ya. Maaf Sat, belum ada niat buat beliin Clairmont. Hahaha. Nanti kalau aku ulang tahun dikasih Clairmont nggak papa kok, aku ikhlas. Yaiyalahyaa.
 
Yopa, Satria, Adit, saya :D

Yang ultah siapa, yang heboh siapa -,-

Minggu kemarin ulang tahunnya Syella. Minggu ini ulang tahunnya Fitrop sama Pipit. Barakallah fii umrik yaa adik-adikku yang cantik! *kecups*

Minggu kemarin juga mbak Dian udah resmi dipersunting Mas Inu. Aaaaaakk… Selamat ya mbaaak! Semoga jadi keluarga yang sakinah. Time flies so fast! Kayaknya baru kemarin tinggal di kosan yang sama, cerita-cerita cekikikan. Dan sekarang udah jadi istri orang :”))

Minggu kemarin juga sebenernya mau pulang, tapi nanggung. Tiket juga belum dapet. Ibu juga kasian kalo saya capek di jalan. Akhirnya nggak jadi pulang dan cuma main ke tempat sepupu di Bekasi.

Sepulang dari Bekasi ketemuan saya Ayu di BP. Hajat Ayu yang sebenernya sih ketemuan sama Bemo. But thanks anyway! Aku seneng ketemu Ayu! J

Malemnya nonton Madre di Lotte. Kok ceritanya agak-agak beda ya sama yang di novel *padahal sebenernya udah lupa, ini gara-gara baca twit Dee aja*. Hahaha. Dan biasa aja sih, malah agak lucu gitu. Nggak nendang.

Jadwal keretanya baru. Berangkatnya jadi pagian. Naik yang pukul 07.06. Longgaaaaarrrr!!!

Masih nggak tau kenapa minggu ini begitu kacau. Lupa! Ohmaigat. Saya yang emang nggak niat buat nginget sesuatu atau nggak mau merhatiin detail.

Saya gampang lupa. Jadinya kalau ditanya tentang apaaa gitu mikirnya jadi lama, lemot. Kebanyakan sih tentang kerjaan gitu, misal ditanya tentang data apa di file mana, saya perlu beberapa waktu buat mikir, meskipun itu baru aja saya kerjain. Naro kartu ATM juga lupa dimana. Kabel data juga. Aaaaa…. Untung kartu ATMnya udah ketemu sih, kabel datanya yang masih ketlingsut. Parbet deh.

Sampai-sampai manajer saya yang kemarin bilang, ‘Ih Nita pelupa ya, ati-ati loh nanti kalo lagi jalan sama pacarnya, kelupaan juga. Terus ninggalin pacarnya, pulang duluan……”

Untung saya nggak punya pacar Pak. Case closed! --,,--

Terus baru nyadar, ternyata berorganisasi itu emang penting ya, buat latihan ketika masuk di dunia kerja. Untuk saling berinteraksi dengan orang lain. Paling enggak kita bisa belajar bagaimana bersikap dan menyikapi orang lain yang karakternya berbeda-beda.

Tiga tahun kuliah dan nggak ikut dalam organisasi apa pun itu kayak cupu banget yaa. Tapi saya nggak nyesel kok. Karena emang itu pilihan saya, hahahaha.

Risau. Dua bulan ini moody banget!!! Mungkin saya rindu kampung sebenarnya. Rindu keluarga di rumah. Atau rindu …. Ah sudahlah.

Kalau kata  Pipit sih mungkin saya butuh liburan. Iya juga sih yaaa. Tapi kemanaaaa???? Dan sama siapa???? #problem

Siang ini seneng bisa ikut dalam ‘lingkaran’ lagi. Ibunya nyampein materinya enaaaak banget. Temanya pun sangat menarik. Mudah-mudahan bisa memperkokoh benteng diri ya. Aamiin aamiin.

Oiya, saking stressnya malem ini, sampe pengen perang di twitter sama orang. Kayaknya seru. Tapi kata mba Desy, twitwar itu nggak elegan. Iya juga sih, sayang buang-buang energy buat begituan. Lagian lawan saya nanti malah kesenengan kalau diladenin. Oke, bye!!!

Malem ini juga kayaknya kebanyakan ngetwit nggak penting. Eh, bukan hanya malam ini deh kayaknya. Tiap ngetwit juga nggak penting. Astagfirullah. Berasa alay.

Teman-teman geng Ranji makin berkurang. Huft. Yopa pulang sore tadi L

Apa kabar sih hati saya? Hahahaha…. Beberapa postingan kemarin ke arah situ terus yee. Lemah banget sih ta!

Kuat kuat!!! Kamu kuat!!!! *berasa iklan jamu*

Sukak banget sama twit @saidialhady di suatu hari yang pernah saya retweet (ini dipotong dikit):

-Cukup cintai ia dengan diam hingga cinta menguatkanmu, bahwa kau dan dia berada dalam suatu takdir.-

Nyessss!!!

Sabtu, 06 April 2013

Ingkar

Sudah terlalu sering berjanji pada diri sendiri
Dan sudah terlalu sering pula mengingkarinya sendiri
Kemudian menyesalinya sendiri
Manusia