Bahasan titik harusnya sudah minggu lalu. Ketika sedang melakukan sesuatu kemudian muncul satu titik yang membuat saya berhenti melalukan kegaiatan yang saat itu sedang saya kerjakan dan berpikir ulang apa hakikat semuaaa yang sedang saya kerjakan. Apa tujuannya, apa latar belakangnya, bagaimana caranya, apakah saya melakukan dengan orang yang benar, apakah ini yang selama ini benar-benar diinginkan?
Semacam titik refleksi yang (harusnya) membantu kita untuk kembali meluruskan niat.
Beberapa hari kemudian titik itu kembali muncul. Bukan lagi berbagai pertanyaan itu yang muncul. Tapi satu kata sifat. Jujur.
Seperti tertampar. Seakan selama ini satu kata itu yang luput dari pikiran saya selama ini.
Jujur.
Bahwa sesungguhnya kejujuran adalah di atas segalanya. Jujur dalam perkataan dan perbuatan. Dalam dua kejadian, dua-duanya telah teruji. Dengan hasil yang. Membuat saya. Kecewa.
Entah mungkin hanya kecurigaan saja atau kah memang sesuatu yang tak dimilikinya.
Apakah saya tak cukup menjadi teman yang pantas untuk mengetahui sesuatu secara utuh dan apa adanya?
Mungkin memang hanya sebatas ini. :)
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 Desember 2015
Rabu, 06 Agustus 2014
Kesimpulan
Rabu, 02 Juli 2014
Menghilang
Mungkin kamu menghilang
karena ingin melupakanku
atau karena ingin aku melupakanmu
Memangnya untuk apa kita saling mengingat?
:)
karena ingin melupakanku
atau karena ingin aku melupakanmu
Memangnya untuk apa kita saling mengingat?
:)
Kamis, 26 Desember 2013
Aku Ingin Mundur
Ketika aku bilang aku ingin mundur
Kadang aku tak benar-benar ingin berkata demikian
Karena kadang mulutku terlalu kelu untuk berkata yang
sebenarnya
Aku malu
Malu mengatakan dengan gamblang
Berharap ada yang mengerti tanpa ada sebaris kata terucap
lisan
Tapi harapan hanya jadi angan
Sebenarnya aku hanya butuh penguatan-penguatan
Yang akan tetap mendukungku berjalan
Berjalan lurus ke depan,
bukan hanya diam
Atau bahkan mundur ke belakang
Atau bahkan mundur ke belakang
Ketika akhirnya deretan
kata itu keluar,
Beberapa bilang aku memang
lebih pantas diam
Beberapa bilang aku lebih
baik kembali menapaki langkah yang telah terjejak
Beberapa tidak bergeming
Kemudian kamu,
Kamu tahu
Kamu dapat membacaku
Ah tidak, kamu tidak bisa
membacaku
Yang aku tahu waktu itu
kamu menguatkanku untuk tetap maju
Rabu, 23 Oktober 2013
Mengharap
Iya, aku tahu bahwa aku sendiri yang mempermainkannya
Hatiku sendiri
Ketika kamu sudah berpendar perlahan, antara sadar dan
sangat sadar pensil ingatanku kembali menggambarnya
Kecewa yang sebenarnya telah pergi, kembali mendera
Tidak ada yang perlu disesali di sini
Semua manusia berhak mengharap
Pun aku
Selasa, 17 September 2013
Bukan Dijangkau
Kamu bukan untuk dijangkau
Tapi hanya untuk dikagumi
Senin, 02 September 2013
Cuma Sama Kamu
Selasa, 25 Juni 2013
Kriteria Tak Butuh Alasan
Selasa, 11 Juni 2013
Meletup
Apa yang akan kamu lakukan ketika rasa rindumu sudah memuncak hingga ke ubun-ubun
Ketika dia membuat dadamu bergemuruh tak tertahan, meletup-letup tak keruan
Ketika mulut jadi hanya ingin diam seharian
Ah, rindu memang makhluk paling tak tahu diri
Tiba-tiba datang ketika aku melamun sendirian
Ketika aku ada di tengah keramaian
Dan bahkan ketika aku masih berkutat dengan setumpuk gawe yang dekat dengan deadline
Apa yang akan kamu lakukan?
Kalau aku,
Hanya akan (berusaha) melupakannya
Ketika dia membuat dadamu bergemuruh tak tertahan, meletup-letup tak keruan
Ketika mulut jadi hanya ingin diam seharian
Ah, rindu memang makhluk paling tak tahu diri
Tiba-tiba datang ketika aku melamun sendirian
Ketika aku ada di tengah keramaian
Dan bahkan ketika aku masih berkutat dengan setumpuk gawe yang dekat dengan deadline
Apa yang akan kamu lakukan?
Kalau aku,
Hanya akan (berusaha) melupakannya
Rabu, 05 Juni 2013
Selasa, 04 Juni 2013
Sedetik
Aku bohong kalau aku bilang
cuma butuh waktu sedetik untuk jatuh ke sana
Butuh ribuan bahkan jutaan detik mungkin
Ah bukan,
Bukan butuh
Siapa pula yang butuh jatuh?
Entah butuh berapa detik untukku sadar
bahwa aku telah terjatuh
Sadar
Mustahil bila dalam sedetik aku jatuh lalu sadar
Tapi aku hanya minta sedetik saja,
untukmu sejenak mengabur dari pikiranku
Sedetik
cuma butuh waktu sedetik untuk jatuh ke sana
Butuh ribuan bahkan jutaan detik mungkin
Ah bukan,
Bukan butuh
Siapa pula yang butuh jatuh?
Entah butuh berapa detik untukku sadar
bahwa aku telah terjatuh
Sadar
Mustahil bila dalam sedetik aku jatuh lalu sadar
Tapi aku hanya minta sedetik saja,
untukmu sejenak mengabur dari pikiranku
Sedetik
Kamis, 16 Mei 2013
Fase
Rabu, 08 Mei 2013
Percuma
Percuma memang bila ternyata
aku bergerak sendiri
Percuma pula bila ternyata aku merindu sendiri
Lewat sela-sela teralis jendela aku berbisik pada si bayu
yang malam-malam melintas perlahan
Di antara desah dedaunan
Di antara tiga laron yang sedang beterbangan
Di antara deru pesawat yang sengaja melintas di atas sana
Aku bilang kalau aku rindu
Percuma
Di antara derak kereta ekonomi yang kian menua
Di antara lautan manusia stasiun yang saling berebut naik
turun tangga
Di antara suara
sumbang peluit petugas peron lima
Aku juga berbisik
Aku bilang kalau aku rindu
Percuma
Aku tahu itu percuma
Tapi aku tetap berbisik pada angin yang membuat rokku
sedikit tersingkap
Pada hujan yang membasahi sepatuku yang baru saja aku cuci
Pada kilat yang membuat mataku terkesiap
Pada batu kerikil yang membuatku tersandung di suatu sore
Pada rumput yang bergoyang sayu
Pada kambing yang selalu berebut jalanan sempit
Pada cicak yang tak bosan merangkak di dinding
Aku bilang aku rindu
Percuma
Bila ternyata aku
bergerak sendiri
Bila ternyata aku merindu sendiri
Minggu, 28 April 2013
Kemungkinan
Masih saja keasyikan membayangkan seribu kemungkinan
yang diharap bisa terjadi setiap saat
Berpapasan di tengah jalan
Berdiri di gerbong kereta yang sama
Menyeberang di jembatan penyeberang yang tak berbeda
Makan malam di warung nasi goreng yang sama
Apa mungkin?
Bahkan kita berdiri di tanah yang berbeda
Terjarak oleh ribuan mil aspal
Terbatasi oleh perairan luas
Tertimbun oleh angkasa yang membumbung
Bukan itu intinya,
Kemungkinan yang melegakan itu
Hanya tersekat oleh kemauan
Rabu, 24 April 2013
Nikmati
Cara terbaik untuk selalu nyaman dan senang dalam keadaan apa pun dimana pun adalah selalu ingat bahwa kelak di masa depan apa pun yang sedang dilalui akan kita rindukan.
Nikmati tiap alurnya. Rasakan energi yang tercurah untuknya. Pikirkan makna yang terselip di dalamnya. Syukuri.
Saya yakin akan rindu masa-masa ini. Saya sedang rindu masa-masa yang pernah saya lalui. Pun masa depan, saya merindukannya agar segera datang. Menyingkap setiap jengkal tabir rahasia yang selalu menggoda untuk dibuka.
Nikmati,
Iya saya selalu berusaha menikmati setiap apa yang ada. Supaya kelak bisa mengingat setiap detil ketika saya merindukannya.
Nikmati tiap alurnya. Rasakan energi yang tercurah untuknya. Pikirkan makna yang terselip di dalamnya. Syukuri.
Saya yakin akan rindu masa-masa ini. Saya sedang rindu masa-masa yang pernah saya lalui. Pun masa depan, saya merindukannya agar segera datang. Menyingkap setiap jengkal tabir rahasia yang selalu menggoda untuk dibuka.
Nikmati,
Iya saya selalu berusaha menikmati setiap apa yang ada. Supaya kelak bisa mengingat setiap detil ketika saya merindukannya.
Jumat, 12 April 2013
Ingkar (Lagi)
Minggu, 07 April 2013
Risau
Mungkin risau yang paling dekat
dengan kata galau saat ini. Galau udah nggak musim kan yaa.
Semaleman ini absurd banget. Penyebab
utamanya adalah gara-gara nggak dap…. Ah
yaudahsihyaa.
Harusnya hari ini ngerjain revisi
laporan yang udah dikirim sama in charge
tengah malam kemarin. Tapi berhubung
hari Sabtu ini ada kegiatan dan sore baru pulang, makanya nggak sempet. Isya’
tadi baru saya download filenya, dapet sms dari Acil yang nanyain tentang itu,
trus curhat kalau males, dan akhirnya nggak belum ngerjain sampai sekarang. Nggak tau deh
kalo Acil. In chargenya nggak jelas
banget.
Hari Jumat kemarin dibikin bête abis.
In charge pagi udah sms kayak biasa
nyuruh ini itu. Dari lagak-lagaknya sih kayaknya hari itu nggak bakal dateng. Yaudah,
saya sama Acil ngerjain apa aja yang bisa kami kerjain. Tau-tau jam 4 sore
bapak in charge kami dateng. Firasat langsung
nggak enak. Pasti lembur. Aaaaa…. Ngerusak janjian saya sama Ayu.
Dan benar! Bapaknya nyuruh ini
itu. Ya nggak papa sih dikasih kerjaan ini itu, karena emang tugas saya sebagai
asistant buat bantuin. Tapi cara menyampaikannya ini loh. Acil juga nggak kalah
bête. Sesorean itu akhirnya kita saling nyolot. Sesy juga ikut-ikutan
ketularan, hahaha.
Alhasil, malam itu baru keluar
kantor jam 19.45, tanpa makan malam terlebih dahulu. Lapar luar biasa. PAgi nggak sarapan, siang cuma makan bakso, sama gorengan juga sih. Tapi kan belum makan nasi. Mana saya
nggak tau jadwal kereta yang baru. Sampai di Tanah Abang yang biasanya ada
kereta ekonomi berangkat pukul 20.30, ternyata udah ganti jadi Commuter Line
berangkat pukul 20.45. Yang dari Manggarai nggak begitu penuh sih.
Sekuat-kuatnya saya, kadang tetep
takut juga di jalan yang agak sepi. Takut sama orang. Untung ketemu sama
mba-mba buat naik angkot. The next problem is: kawasan kampus lampunya nggak
dinyalain, jadinya gelap banget. Mulai masuk gerbang depan, cuma lampu taman
yang kecil yang diidupun, itu pun yang bagian depan. Yang di sebelah gedung I
dan sekitaran gedung P nggak nyala. Kalau di situ saya takut ketemu sama yang enggak-enggak. Cuma bisa nyebut
Allahu Akbar sambil jalan cepet. Terus pas nyampe deket pos satpam ada 4 orang
satpam yang lagi nongkrong-nongkrong, pada ngeliatain. Pada amaze kali ya sama saya yang berani nembus
kegelapan malam.
Nggak tau lagi deh maunya kampus
tuh apa. Biar bayar listriknya irit? Tapi kan malah jadi rawan kejahatan juga.
Dan menu makan malam andalan
adalah nasi goreng super pedes deket kosan. Biar penatnya ilang. Biar agak
nge-fly. Hahaha. Tapi paginya mules-mules K
Ada yang ngirim
lagu malem itu. Lumayan lah yaa jadi agak entengan dikit penatnya. Hihi.
Makasih ya woy! :D
Intinya sekarang laporannya belum
saya revisi sama sekali.
Dua minggu yang lalu ulang
tahunnya Satria, trus ditraktir deh di BP. Yeayy!! Makasih yee. Biar nggak
krik-krik dan biar ada timbal baliknya ya kami ngasih kue kecil-kecilan lah ya.
Maaf Sat, belum ada niat buat beliin Clairmont. Hahaha. Nanti kalau aku ulang tahun
dikasih Clairmont nggak papa kok, aku ikhlas. Yaiyalahyaa.
![]() |
| Yopa, Satria, Adit, saya :D |
![]() |
| Yang ultah siapa, yang heboh siapa -,- |
Minggu kemarin ulang tahunnya
Syella. Minggu ini ulang tahunnya Fitrop sama Pipit. Barakallah fii umrik yaa adik-adikku
yang cantik! *kecups*
Minggu kemarin juga mbak Dian
udah resmi dipersunting Mas Inu. Aaaaaakk… Selamat ya mbaaak! Semoga jadi
keluarga yang sakinah. Time flies so fast! Kayaknya baru kemarin tinggal di
kosan yang sama, cerita-cerita cekikikan. Dan sekarang udah jadi istri orang :”))
Minggu kemarin juga sebenernya
mau pulang, tapi nanggung. Tiket juga belum dapet. Ibu juga kasian kalo saya
capek di jalan. Akhirnya nggak jadi pulang dan cuma main ke tempat sepupu di
Bekasi.
Sepulang dari Bekasi ketemuan
saya Ayu di BP. Hajat Ayu yang sebenernya sih ketemuan sama Bemo. But thanks
anyway! Aku seneng ketemu Ayu! J
Malemnya nonton Madre di Lotte. Kok
ceritanya agak-agak beda ya sama yang di novel *padahal sebenernya udah lupa,
ini gara-gara baca twit Dee aja*. Hahaha. Dan biasa aja sih, malah agak lucu
gitu. Nggak nendang.
Jadwal keretanya baru. Berangkatnya
jadi pagian. Naik yang pukul 07.06. Longgaaaaarrrr!!!
Masih nggak tau kenapa minggu ini
begitu kacau. Lupa! Ohmaigat. Saya yang emang nggak niat buat nginget sesuatu
atau nggak mau merhatiin detail.
Saya gampang lupa. Jadinya kalau
ditanya tentang apaaa gitu mikirnya jadi lama, lemot. Kebanyakan sih tentang
kerjaan gitu, misal ditanya tentang data apa di file mana, saya perlu beberapa
waktu buat mikir, meskipun itu baru aja saya kerjain. Naro kartu ATM juga lupa
dimana. Kabel data juga. Aaaaa…. Untung kartu ATMnya udah ketemu sih, kabel
datanya yang masih ketlingsut. Parbet
deh.
Sampai-sampai manajer saya yang
kemarin bilang, ‘Ih Nita pelupa ya,
ati-ati loh nanti kalo lagi jalan sama pacarnya, kelupaan juga. Terus ninggalin
pacarnya, pulang duluan……”
Untung saya nggak punya pacar
Pak. Case closed! --,,--
Terus baru nyadar, ternyata
berorganisasi itu emang penting ya, buat latihan ketika masuk di dunia kerja. Untuk
saling berinteraksi dengan orang lain. Paling enggak kita bisa belajar
bagaimana bersikap dan menyikapi orang lain yang karakternya berbeda-beda.
Tiga tahun kuliah dan nggak ikut
dalam organisasi apa pun itu kayak cupu banget yaa. Tapi saya nggak nyesel kok.
Karena emang itu pilihan saya, hahahaha.
Risau. Dua bulan ini moody
banget!!! Mungkin saya rindu kampung sebenarnya. Rindu keluarga di rumah. Atau rindu
…. Ah sudahlah.
Kalau kata Pipit sih mungkin saya butuh liburan. Iya juga sih yaaa. Tapi kemanaaaa???? Dan sama siapa???? #problem
Siang ini seneng bisa ikut dalam ‘lingkaran’
lagi. Ibunya nyampein materinya enaaaak banget. Temanya pun sangat menarik. Mudah-mudahan
bisa memperkokoh benteng diri ya. Aamiin aamiin.
Oiya, saking stressnya malem ini,
sampe pengen perang di twitter sama orang. Kayaknya seru. Tapi kata mba Desy,
twitwar itu nggak elegan. Iya juga sih, sayang buang-buang energy buat
begituan. Lagian lawan saya nanti malah kesenengan kalau diladenin. Oke, bye!!!
Malem ini juga kayaknya kebanyakan
ngetwit nggak penting. Eh, bukan hanya malam ini deh kayaknya. Tiap ngetwit
juga nggak penting. Astagfirullah. Berasa alay.
Teman-teman geng Ranji makin
berkurang. Huft. Yopa pulang sore tadi L
Apa kabar sih hati saya? Hahahaha….
Beberapa postingan kemarin ke arah situ terus yee. Lemah banget sih ta!
Kuat kuat!!! Kamu kuat!!!!
*berasa iklan jamu*
Sukak banget sama twit
@saidialhady di suatu hari yang pernah saya retweet (ini dipotong dikit):
-Cukup cintai ia dengan diam hingga cinta menguatkanmu, bahwa kau dan
dia berada dalam suatu takdir.-
Nyessss!!!
Sabtu, 06 April 2013
Ingkar
Langganan:
Komentar (Atom)

